Blog

Tahun Baru Hijriah: Momen Muhasabah

by in Blog Agustus 9, 2021

ditulis untuk direnungkan bersama

Bentar lagi tahun baru nih, Kira-kira resolusi apa aja yang sudah sahabat rencanakan?

Tahun baru seringkali identik dengan hal-hal baru.
Mulai dari semangat baru, target-target baru, dan masih banyak lagi yang baru, termasuk status baru, eh!

Sebelum menatap masa depan yuk sejenak flashback ke belakang

Apa aja sih yang udah kita kerjakan di satu tahun kebelakang?
Apa aja rencana yang hanya jadi wacana?

Mungkin banyak dari sahabat yang punya kisah sedih di tahun ini,
Mulai dari banyaknya kabar kehilangan orang tersayang, pekerjaan yang tinggal kenangan, dan masa depan yang terasa suram untuk diterawang.

Tenang aja, semua ada masanya kok. Ga selamanya kita ditimpa musibah, ga selamanya hidup ini susah. Jadi sewajarnya aja yaa..

Untuk ujian, kita tentu tahu bahwa tingkat kesulitan bergantung pada level keimanan. Seperti halnya soal ujian anak SD yang tidak akan sama dengan anak SMA.

Ujian kita belum seberapa dibanding para Nabi, apalagi yang sampai mendapat gelar Ulul Azmi.

Jadi, sekali lagi sewajarnya saja.
Bukan berarti ga boleh sedih ya, Nabi dan Rasul juga pernah sedih kok ketika ditimpa musibah. Tapi tetap, sedihnya sewajarnya.


Nabi Muhammad pernah sangat sedih ketika dua orang yang beliau sayang Allah ambil dalam waktu hampir bersamaan. Tapi apakah kesedihannya berkepanjangan? Apakah dakwah beliau menjadi terhalang? Tentu tidak.
Apakah itu tandanya beliau tidak sayang paman dan sang kekasih halal?
Justru karena cinta beliau itu bersumber dari Yang Maha Cinta, maka beliau tetap tunaikan kewajiban menjadi perantara keimanan.

Jadi bukti cinta bukan berarti dengan terus merana. Bangkit dan terus berjuang, maka in syaa Allah akan membuat bangga mereka yang kita sayang.

Euforia tahun baru harusnya tidak disambut dengan kesia-siaan belaka. Menyulut kembang api dan meniup terompet tentu seharusnya tidak kita jadikan budaya.

Sudah seharusnya tahun baru menjadi ajang kita muhasabah diri dan membuat resolusi untuk mewujudkan mimpi.

Sudah berapa banyak dosa yang kita perbuat? Sudahkah kita bertaubat?
Segala nikmat apakah sudah kita jadikan jalan kemudahan untuk meningkatkan taat, atau justru jadi sarana bermaksiat?
mata kita, telinga kita, tangan kita, kaki kita apakah lebih banyak mengantarkan kita untuk semakin mendekat kepadaNya?

Nah di awal tahun ini kita hisab diri sendiri sebelum datang hisab di hari nanti.

Bukan menjadi penyesalan yang berkepanjangan sampai merasa tidak akan termaafkan, tapi untuk belajar tidak mengulang kesalahan demikian.

Sebagaimana firman Allah:

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am: 54)

Maha Baik Allah yang tetap mencintai hamba-Nya. Sebanyak apapun dosa, selama ia bertaubat maka Allah akan mendekat.

“. . . Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa, dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”
(Penggalan hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi)

Selanjutnya kita buktikan kesungguhan kita dengan perbaikan, menjadi pribadi yang layak Ia cintai dan agar kita tidak termasuk orang-orang yang rugi.

Kita lakukan resolusi untuk meraih mimpi. Bukan sembarang mimpi, tapi mimpi yang Ia ridhoi.

Bukan hanya dunia tapi surga jadi cita-cita.

Dan sebaik-baik resolusi adalah mempersiapkan diri agar kembali dengan predikat yang ridho dan diridhoi.

Semoga Allah memberikan kita taufiq, Aamiin.

Penulis: Septiyani Ardila

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *