Blog

Sembelihan Tapi Bukan Qurban

by in Blog Juli 17, 2021

Tanpa kita sadari, kita disembelih berkali-kali. Juga tanpa kita sadari, kita menyembelih setiap hari.

Apa maksudnya?

Apa yang disembelih?

Rasulullah SAW bersabda:

سلامة الإنسان في حفظ اللسان

“Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan.” (HR. al-Bukhari).

Apa hubungan lisan dengan sembelihan?Selain menyelamatkan diri sendiri, menjaga lisan juga menyelamatkan orang lain dari perkataan yang menyakiti. Namun, sedikit dari kita yang tahu bahwa ada perkataan lisan yang lebih berbahaya dari sekadar menyakiti.

Itulah lisan yang menyembelih.

‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata,

المدح هو الذبح

“Pujian adalah sembelihan.” (Fathul Baari, 10: 477 karya Ibnu Hajar)

Perkataan Umar ra. ini adalah kesimpulan dari berbagai hadits nabi tentang pujian, salah satunya:

وَيْلَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ، قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ

“Celaka kamu, kamu telah memenggal leher sahabatmu, kamu telah memenggal leher sahabatmu.”

Kok bisa pujian setajam itu? Apakah artinya kita tidak boleh memuji sama sekali?

Yang dikhawatirkan adalah dampak dari pujian yaitu ujub. Kalaupun pujian itu memang layak diberikan, kepribadian orang yang dipuji harus dipertimbangkan. Jika sekiranya orang tersebut cenderung berbangga diri, maka lebih baik untuk tidak memujinya atau lebih berhati-hati dalam memberikan pujian agar jangan sampai terkesan berlebihan.

Sebab Rasulullah Saw. pun, termaktub di dalam hadits-hadits bahwa beliau memuji sahabat-sahabatnya. Mengenai hal tersebut, An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah memberikan penjelasan sebagai berikut:

وَقَدْ جَاءَتْ أَحَادِيث كَثِيرَة فِي الصَّحِيحَيْنِ بِالْمَدْحِ فِي الْوَجْه . قَالَ الْعُلَمَاء : وَطَرِيق الْجَمْع بَيْنهَا أَنَّ النَّهْي مَحْمُول عَلَى الْمُجَازَفَة فِي الْمَدْح ، وَالزِّيَادَة فِي الْأَوْصَاف ، أَوْ عََلَى مَنْ يُخَاف عَلَيْهِ فِتْنَة مِنْ إِعْجَاب وَنَحْوه إِذَا سَمِعَ الْمَدْح . وَأَمَّا مَنْ لَا يُخَاف عَلَيْهِ ذَلِكَ لِكَمَالِ تَقْوَاهُ ، وَرُسُوخ عَقْله وَمَعْرِفَته ، فَلَا نَهْي فِي مَدْحه فِي وَجْهه إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ مُجَازَفَة ، بَلْ إِنْ كَانَ يَحْصُل بِذَلِكَ مَصْلَحَة كَنَشَطِهِ لِلْخَيْرِ ، وَالِازْدِيَاد مِنْهُ ، أَوْ الدَّوَام عَلَيْهِ ، أَوْ الِاقْتِدَاء بِهِ ، كَانَ مُسْتَحَبًّا . وَاللَّهُ أَعْلَم

“Terdapat banyak hadits dalam shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim) tentang (bolehnya) memuji orang lain di hadapannya. Para ulama mengatakan, metode untuk mengkompromikan hadits-hadits di atas adalah bahwa hadits yang melarang itu dimaksudkan untuk orang yang berlebihan (serampangan) dalam memuji, atau pujian yang lebih dari sifat yang sebenarnya, atau pujian yang ditujukan kepada orang yang dikhawatirkan tertimpa fitnah berupa ujub dan semacamnya ketika dia mendengar pujian kepada dirinya.

Jadi ada indikator yang menjadikan ‘pujian’ kita bak pisau yang menyembelih:

1. Pujian disampaikan dengan cara berlebihan.

2. Pujiannya ‘hiperbola’ bahkan sampai mengada-ada.

Allah SWT berfirman: ”Janganlah sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang sangat suka dengan apa yang telah mereka lakukan dan suka dipuji atas sesuatu yang tidak mereka kerjakan, janganlah sekali-kali engkau menyangka, mereka akan selamat dari siksa. Bagi mereka adalah siksa yang pedih.” (QS Ali-Imran (3): 188).

3. Pujian menyebabkan orang yang dipuji merasa ujub.

Hampir senada, dilansir dari kanal YouTube Moeslim Tv, Habib Ali Zainal Abidin Al-Hamid menyampaikan bahwa ada tiga syarat seseorang boleh memuji:

  1. Orang yang memuji tidak menginginkan apa-apa dari yang dipuji.
  2. Orang yang dipuji selamat dari sifat riya’.
  3. Pujian yang diberikan tidak mengada-ada

Lantas bagaimana cara memuji yang tidak berisiko menimbulkan rasa ujub dalam diri orang yang dipuji?

Rasulullah Saw. telah bersabda:

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ، فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللَّهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا، إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ

“Siapa saja di antara kalian yang tidak boleh tidak harus memuji saudaranya, hendaklah dia mengucapkan, “Aku mengira si fulan (itu demikian), dan Allah-lah yang lebih tahu secara pasti kenyataan sesungguhnya, dan aku tidak memberikan pujian ini secara pasti, aku mengira dia ini begini dan begitu keadaannya”, jika dia mengetahui dengan yakin tentang diri saudaranya itu (yang dipuji).” (HR. Bukhari no. 2662 dan Muslim no. 3000)

Selain orang yang memuji, upaya menghindari konsekuensi timbulnya rasa ‘ujub’ juga harus dilakukan oleh orang yang dipuji.

Setidaknya ada dua cara:

  1. Mengembalikan pujian kepada Allah SWT dengan mengucapkan hamdalah. Sebab apapun kelebihan kita/keunggulan yang membuat kita dipuji, semuanya adalah nikmat dari Allah SWT.
  2. Berterimakasih kepada orang yang memuji.

Sebab Rasulullah Saw. bersabda:

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

Tidak dikatakan bersyukur pada Allah, siapa yang tidak tahu berterima kasih kepada sesama manusia. (HR. Tirmidzi dan Abu Daud; shahih)

  • 3. Membaca doa yang diamalkan oleh Ali bin Abi Thalib ra.

اَللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ واجْعَلْنِي خَيْراً مِمَّا يَظُنُّونَ

Allahumma laa tuakhidzni bi maa yaquuluuna, waghfirlii maa laa ya’lamuuna, waj’alnii khairan mimmaa yadhunnuuna

Artinya: “Ya Allah, jangan Engkau menghukumku disebabkan pujian yang dia ucapkan, ampunilah aku, atas kekurangan yang tidak mereka ketahui. Dan jadikan aku lebih baik dari pada penilaian yang mereka berikan untukku

Semoga setelah membaca ini kita lebih berhati-hati dalam memuji maupun menerima pujian. Sama-sama kita memperbanyak pujian kepada satu-satunya yang Maha Terpuji yaitu Allah SWT.

Alhamdulillah.

Sumber:

  • https://muslim.or.id/47721-larangan-berlebihan-dalam-memuji.html
  • https://iqra.id/doa-ketika-dipuji-orang-yuk-baca-agar-tidak-sombong-226212/
  • https://youtu.be/5-hhbspkl20

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *