Launching Buku Antologi “Menuju Cahaya Allah”: Karya Pertama dari Alumni Santriwati Maskanul Huffadz

by in Blog, Info Maskan November 9, 2021

Alhamdulillah, kini santriwati Maskanul Huffadz telah melahirkan sebuah karya buku antologi yang berjudul Menuju Cahaya Allah.

Karya ini berisi tentang kisah-kisah untuk menjadi keluarganya Allah. Ditulis oleh 20 orang santri alumni Maskanul Huffadz.

Hasil keuntungan dari penjualan buku ini, akan diberikan sepenuhnya untuk pengembangan dakwah Al-Qur’an di Maskanul Huffadz.

Di hari Ahad yang lalu, tepat pada tanggal 7 November 2021, Umma Oki Setiana Dewi selaku Pimpinan Pesantren Tahfidz Maskanul Huffadz ikut meresmikan terbitnya karya para santri ini.

Selain menjadi Pimpinan Pesantren, beliau juga seorang penulis buku best seller. Karya-karya Umma Oki banyak tersebar di seluruh toko-toko buku se-Indonesia.

Banyak buku yang sudah beliau tulis, di antaranya Melukis Pelangi, Cahaya di Atas Cahaya, Sebentang Kearifan dari Barat, Dekapan Kematian, dll..

Acara launching tersebut dimeriahkan oleh santri, baik itu yang ada di pusat, maupun di cabang Maskanul Huffadz.

Tapi, ada sesuatu yang menarik di dalam acara itu. Apa yaa??

Penampilan puisi yang dibawakan oleh 2 orang pengurus Maskanul Huffadz mencuri perhatian para hadirin. Bukan karena keelokan dari paras pembawa puisi, melainkan isi dari puisi itu sendiri.

Durasi kurang lebih 10 menit, berhasil membuat hadirin berdecak kagum. Puisi itu singkat, tapi maknanya begitu dalam. Judulnya “Sepetak Cahaya”.

Tentu kita sudah tahu, sepetak cahaya yang dimaksud adalah handphone. Puisi yang sangat bagus yang bisa dijadikan sebagai sentilan untuk muda-mudi bangsa.

Puisi ini dirangkai oleh: Ustadzah Qomariah (Salah satu pengurus yang bertugas di bagian media sebagai content writer Maskanul Huffadz)

Berikut lirik dari puisi nya:

Mengarahkan tunjuk pada sepetak cahaya yang meredup

Biar ia tetap hidup

Memaku tatap tetap menatap

Sepetak cahaya tak kunjung redup sampai terlelap

Sepetak cahaya menjajah tanpa senjata

Melucuti sapu dari tangan gadis-gadis lugu

Menutup kitab dari tangan pelajar

Menutup telinga mereka dari nasihat dan khutbah

Mereka sangat pintar membantah

 “Zaman sudah berubah!”

Ya, zaman anak-anak malas membaca tapi berkacamata karena sibuk memaku tatap pada sepetak cahaya di tangannya

Masjid-masjid ditinggalkan, azan tak didengarkan

Anak-anak kecil tak mengenal permainan dan tak tahu-menahu dengan lingkungan demi sepetak cahaya yang kakaknya justru wariskan

Gadis-gadis tinggalkan ibunya di dapur sendirian demi sepetak cahaya yang ibunya belikan mati-matian

Ia sibuk senyam-senyum di depan sepetak cahaya yang menggerogoti moral dari dua lubang matanya yang lelah

Gila!

Meski sepetak, cahaya itu tenggelamkan penggenggamya hilang dari ibunya, hilang dari keluarganya, hilang dari sekolahnya, hilang dari agamanya, hilang dari negerinya

Sedang negeri ini menggantungkan harapan pada mereka

Jadi apa negeri ini di tangan orang yang hanya tahu mengenggam sepetak cahaya yang bahkan tak menerangi jalannya

Oh, ayah-ayah, ibu-ibu!

Bukan kata kau tak boleh memanja

Mereka bukan putra-putrimu saja

Mereka pena-pena negeri kita

Arahkan mereka pada cahaya yang menerangi

yang tak meredup apalagi mati

Puisi Sepetak Cahaya, Karya Qomariah

Cahaya yang tak meredup apalagi mati yang dimaksud dalam puisi tersebut adalah Al-Quran. Tepat setelah puisi itu selesai dibacakan, hadirin diperdengarkan bacaan Al-Quran surah An-Nur ayat 32 yang dibawakan oleh Ustadzah Alya Natasya.

Selain penampilan puisi yang menarik perhatian, di dalam acara launching itu pun ada sesi tanya jawab dengan para penulis.

Sekaligus Umma Oki pun memberikan beberapa tips dan teknik dalam dunia kepenulisan, berdasarkan pengalaman-pengalamannya dalam berkarya.

Tidak heran jika para hadirin pun begitu antusias mengikuti acara tersebut. (Ahad, 7/11/2021)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *