Blog

Ketika Niatmu “Dipertanyakan”

by in Blog Februari 25, 2021

Pesan Untuk Santri Pengabdian

LIQO adalah salah satu program Maskanul Huffadz yang bertujuan menjadi iman booster khususnya bagi santri beasiswa yang kini mengabdi. Ummi Rara, selaku mentor sekaligus penanggungjawab program ini mengkhususkan pertemuan pekan ketiga sebagai ajang ‘curhat’ seputar pengabdian. Saat itulah beliau ‘mempertanyakan’ keikhlasan kami mengabdi di Maffaz.

Mempertanyakan bukan berarti meragukan. Beliau ingin kami berterus terang mengenai apa-apa yang membuat kami kurang nyaman dalam mengabdi juga hal-hal yang ‘menyumbat’ ketulusan kami. Dengan keterbukaan ini, beliau berharap kami menjalani pengabdian ini semata-mata untuk meraih ridha Allah SWT.

Ada satu pertanyaan yang beliau ajukan di pertemuan kali itu.

“Apa yang akan kalian lakukan untuk Maskanul Huffadz yang telah menjadikan kalian seorang hafidzah tanpa memungut biaya sepeser pun?”

Beberapa jawaban yang terlontar di antaranya : “Mengabdi dengan sepenuh hati,” “Mengabdi dengan serius,” “Menyumbangkan pikiran, tenaga, dan waktu,” “Berkontribusi untuk perkembangan Maffaz,” dan lainnya yang senada.

Namun ada jawaban yang tidak terlontar. Yang sedang kamu baca ini adalah jawaban itu.

Penulis bukan hendak mengkritisi pertanyaan Ummi Rara, lebih tepatnya memahami pertanyaan itu. Ummi Rara tak pelak lagi tengah menguji niat kami dan hendak meluruskannya selurus-lurusnya. Pertanyaan itu jelas sekali adalah jebakan.

Coba kita renungi lagi pertanyaannya.

“Apa yang akan kalian lakukan untuk Maskanul Huffadz yang telah menjadikan kalian seorang hafidzah tanpa memungut biaya sepeser pun?”

Sekilas tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu, namun bagaimana menurutmu setelah dipertebal? Itulah jebakannya. Ummi Rara ingin tahu, apakah kami mengabdi semata-mata untuk Maffaz? Apakah kami berpikir bahwa Maffaz-lah yang menjadikan kami seorang hafidzah?

Bukan.

Allah-lah yang telah menjadikan kami penjaga kalam-Nya insya Allah, dengan Maffaz sebagai perantara. Untuk-Nya lah kami mengabdi, melalui Maffaz sebagai perantara. Itu benang merahnya.

Teman-teman di sini yang mungkin juga sedang mengabdi, tanamkan ini. Yayasan, pondok pesantren, sekolah, atau apapun itu, kita harus berterima kasih karena diberi kesempatan untuk mengabdi. Karena itu artinya kita diberi ruang untuk menolong agama Allah. Ruang yang lebih menjanjikan keluasan manfaat yang dapat kita sebarkan. Bukankah tanpa program pengabdian ini kita juga masih bingung bagaimana hendak menolong agama Allah seorang diri?

Maka dari itu, apapun posisimu, apapun tugasmu, lakukan dengan sepenuh hati dan bersungguh-sungguh. Berlelah-lelahlah lillahi ta’ala. Bukan li-yayasan li-pondok atau li yang lainnya. Ajak rekan-rekan pengabdianmu untuk memperbarui dan meluruskan niat, agar tak ada lagi kata ‘keberatan’ atau ‘keterpaksaan’ di antara kita.

Begitu juga setelah pengabdianmu selesai. Di manapun Allah menempatkanmu, apapun peranmu, jadilah penolong agama-Nya. Namun ingat satu hal, tanpa pertolongan Allah, kamu tidak mampu berbuat apa-apa, jadi jangan pernah merasa ‘pahlawan’ untuk agama-Nya. Menolong agama Allah sejatinya adalah untuk menolong diri kita sendiri. Menolong agama Allah adalah ajang untuk membuktikan keimanan dan agar kedudukan kita diteguhkan. Sebagaimana Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad/47:7)

Semoga bermanfaat, ya, Sahabat Maffaz! Bagikan ini kepada rekan pengabdianmu juga, ya 🙂

Salam Ukhuwah

Ketika Niatmu “Dipertanyakan”

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *