Blog

Inilah 3 Cara Mengikat Ilmu

by in Blog September 21, 2021

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama (orang berilmu).” (QS. Fathir: 28)

Menuntut ilmu dalah kewajiban bagi setiap muslim. Banyak keutamaan dan dorongan menuntut ilmu dalam Al-Qur’an maupun hadits. Sayangnya, kebanyakan penuntut ilmu lupa bahwa mereka ‘pelupa’ sehingga ilmu yang didapatkan bagaikan pohon yang tak berbuah.

افة العلم النسيان

“Bencana ilmu adalah lupa.” (Riwayat Ibnu Abu Syaibah)

An-Nisyan adalah kata yang sama yang membentuk kata ‘manusia’ sehingga manusia memiliki arti ‘tempat lupa’. Bahkan Imam Syafi’i dalam syairnya berkata:

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَالْكِتَابَةُ قَيْدُهُ قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْحِبَالِ الْوَاثِقَهْ

فَمِنَ الْحَمَاقَةِ أَنْ تَصِيْدَ غَزَالَةً وَتَتْرُكَهَا بَيْنَ الْخَلاَئِقِ طَالِقَهْ

Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya

Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang

Setelah itu kamu tinggalkan terlepas begitu saja

-Imam Syafi’i

Menulis

Syair Imam Syafi’i tidak lain adalah buah dari pengamalan hadits Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam berikut:

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya.”

Seorang penuntut ilmu harus selalu membekali diri dengan buku catatan dan pena. Seperti itulah Al-Quran dan hadits tetap terjaga sampai sekarang. Selain itu, mencatat ilmu insyaallah bernilai ibadah karena kita menggunakan jari-jemari kita dalam kebaikan.

Menyampaikan

Seringkali sebelum menyampaikan pidato atau ceramah, seorang dai akan menyampaikan hadits yang artinya, “Sampaikanlah dariku walau satu ayat.”

Setiap kali mendapatkan ilmu baru, seorang penuntut ilmu hendaknya merasa bertanggung jawab untuk menyampaikannya kembali. Selain membantu daya ingat, mafaat dari ilmu yang kita dapatkan juga lebih luas lagi. Bahkan Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa menyampaikan satu ilmu saja dan ada orang yang mengamalkannya, maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal), ia akan tetap memperoleh pahala” (HR. Al Bukhari)

Mengamalkan

Ibnu ‘Abbas RA berkata; Rasul SAW bersabda; “Barang siapa yang berusaha mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya, maka Allah akan menunjukkan apa yang belum diketahuinya.”

Selain itu, ilmu yang kita pelajari selama di dunia kelak akan dipertanggungjawabkan. Sebagaimana hadits yang berbunyi:

اَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ.

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” (HR. Tirmidzi)

Jadilah penuntut ilmu sejati dengan 3 kunci ini 😉

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *