Imam Asy-Syafi’i Tidak Berwudhu Ketika Shalat Subuh di Rumah Imam Ahmad, Ini Alasannya

by in Blog November 20, 2021

Dikisahkan oleh Al-Ustadz Amir As-Soronji, M. PD. I. Rahimahullahu ta’ala.

Suatu ketika, Imam Asy-Syafi bertamu sekaligus bermalam ke rumah Imam Ahmad.

Saat itu, keluarga Imam Ahmad menghidangkan makanan yang banyak untuk tamunya, Imam Asy-Syafi’i.

Imam Asy-Syafi’i menyantap hidangan itu dengan sangat lahap dan banyak.

Keluarga Imam Ahmad memperhatikan Imam Asy-Syafi’i sejak pertama kali beliau datang.

Mereka penasaran dengan sosok yang sering dibangga-banggakan oleh Imam Ahmad.

Setelah Imam Asy-Syafi’i makan yang banyak, beliau masuk ke kamar untuk beristirahat.

Hingga masuk waktu sepertiga malam, keluarga Imam Ahmad masih memperhatikan tamunya tersebut.

Ternyata, Imam Asy-Syafi’i tidak melaksanakan shalat malam, mereka mulai bingung dan heran.

Sampai tiba waktunya shubuh, Imam Asy-Syafi’i keluar untuk shalat tanpa mengambil wudhu.

Melihat kejadian itu, mereka (keluarganya) mengadu pada Imam Ahmad,

“Wahai Imam Ahmad, Benarkah itu sosok yang sering kau ceritakan pada kami dengan bangga, atas segala kelebihannya?”

“Kami memperhatikannya sejak ia sampai di rumah ini, ketika kami menghidangkan makanan, ia makan dengan lahap dan banyak. Ketika waktu sepertiga malam tiba, ia tidak keluar dari kamar untuk melaksanakan shalat malam. Dan ketika masuk waktu shubuh, ia pergi keluar untuk shalat tanpa mengambil wudhu terlebih dahulu,” sambung keluarganya Imam Ahmad.

Mendengar aduan itu, Imam Ahmad memastikannya dengan bertanya langsung pada Imam Asy-Syafi’i.

“Wahai Imam Asy-Syafi’i, kenapa engkau makan dengan lahap dan banyak? Engkau juga tidak melaksanakan shalat malam, serta tidak mengambil wudhu ketika masuk waktu shalat shubuh?” tanya Imam Ahmad kepada Imam Asy-Syafi’i.

Imam Asy-Syafi’i menjawab, “Wahai Imam Ahmad, kenapa aku makan yang banyak, karena aku yakin, makanan yang paling berkah adalah makanan Imam Ahmad, tidak mungkin makanan yang dihidangkan oleh Imam Ahmad adalah makanan yang tidak baik, tidak mungkin Imam Ahmad memberi hidangan yang haram, syubhat. Maka dari itu saya makan yang banyak.”

“Mengapa saya tidak shalat malam, dikarenakan saya merenungi hadist nabi. Rasulullah. Saw. Bersabda:

يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

‘Wahai Abū ‘Umair apa yang dilakukan oleh an nughair (burung kecil)?’ Tidak mungkin perkataan Rasulullah tidak memiliki makna dan faedah yang terkandung di dalamnya. Maka dari itu aku memilih untuk memahami ilmu. Karena berusaha memahami ilmu lebih utama dari pada shalat malam. Dan aku menemukan ribuan faedah setelah memahami hadist tersebut,” ucap Imam Asy-Syafi’i.

Beliau juga menambahkan, “Adapun mengapa saya tidak mengambil wudhu untuk shalat shubuh, dikarenakan saya belum batal dan masih memiliki wudhu.”

Begitulah kisah alim ulama terdahulu, hatinya sudah terpaut pada Allah.
Sehingga, segala sesuatu yang ia perbuat, dipertimbangkan terlebih dahulu.

Ada banyak hikmah dibalik cerita singkat ini, di antaranya ialah:

  1. Imam Ahmad tidak langsung menerima aduan yang disampaikan oleh
    keluarganya, beliau memastikannya secara langsung kepada yang
    bersangkutan, demi terhindar dari prasangka buruk.
  2. Imam Asy-Syafi’i memilih berusaha memahami ilmu dari pada shalat
    malam. Karena, manfaat shalat malam hanya diperoleh untuk diri sendiri. Sedangkan ilmu, dapat bermanfaat untuk semua, baik itu dirinya sendiri maupun orang banyak.
  3. Perhatikan adab Imam Asy-Syafi’i dalam bertamu, beliau menghargai
    makanan yang dihidangkan oleh keluarganya Imam Ahmad. Bahkan
    tidak mencelanya sedikitpun.
  4. Hendaknya kita tidak membiasakan diri untuk berhusnudzon terhadap orang lain. Karena boleh jadi, Orang yang kita sangka buruk, ternyata lebih baik dari diri kita sendiri.

Ada sebuah hadist yang menyinggung soal prasangka.

Dari Ja’far bin Muhammad rahimahullah beliau berkata, “Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku
tidak ketahui.”
(HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344).

Masih banyak hikmah yang bisa kita gali lebih dalam lagi dari cerita singkat ini.

Dari sini kita juga bisa belajar, bahwa hendaknya kita jangan pernah
memandang buku dari covernya saja, melihat artikel dari judulnya saja, atau menilai seseorang dari luarnya saja.

Kita perlu selidiki terlebih dahulu. Karena boleh jadi, sesuatu yang tidak kita sukai adalah sesuatu yang baik untuk kita.

Semoga bermanfaat 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *