EDISI MAULID: Keagungan Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an

by in Blog Oktober 20, 2021

Al-Quran sebagai pedoman hidup seorang muslim merupakan kitab suci yang abadi. Sudah seharusnya seorang muslim mengetahui bahwa kitab sucinya sangat mengagungkan Nabi-nya dalam banyak ayat. Diantaranya:

A. Dipanggil Tidak Langsung Dengan Namanya

Ketika Allah memanggil para Nabi di dalam al-Quran, para Nabi diapanggil langsung dengan namanya, contohnya:

يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَ زَوجُكَ الجَنَّةَ (البقرة : 35)

“Wahai Adam! Tinggalah engkau dan istrimu di syurga.” (al-Baqarah: 25)

يٰزَكَرِيَّآ اِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلٰمِ ِۨاسْمُهٗ يَحْيٰى ۙ لَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ قَبْلُ سَمِيًّا ﴿مريم : ۷ )يي

“Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki namanya Yahya, yang Kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.” (QS. Maryam: 7)

Begitulah ayat-ayat di dalam al-Quran ketika memanggil seorang Nabi pasti langsung dengan namanya seperti contoh ayat diatas. Berbeda ketika Allah memanggil Nabi Muhammad, tidak pernah dengan langsung menggunakan namanya. Diantaranya:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكَ (التحريم: 1)

“Wahai Nabi! Kenapa engkau mengharamkan apa yang Allah telah halalkan untukmu.” (at-Tahrim: 1)

يٰٓاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ (المائدة: 67)

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang telah Tuhanmu turunkan kepadamu.” (al-Maidah: 67)

Nabi Muhammad mendapatkan perlakuan khusus dari Allah diantara Nabi & Rasul lainnya. Perlakuan khusus ini menunjukan bentuk pengagungan dari yang lain, sedangkan pengagungan merupakan pujian.

Kalaupun ada nama “Muhammad” langsung disebutkan, maka Allah mengikutkan dengan gelarnya, yaitu “Rasulullah”. Seperti contoh:

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّنَ (الأحزاب: 40)

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (al-Ahzab: 40)

Allah sebutkan setelah kata Muhammad dua gelarnya, Rasulullah dan penutup para Nabi. Gelar yang sangat tinggi diantara Nabi dan Rasul.

B. Cahaya Itu Rasulullah

(المائدة: 15) قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan.” (QS. Al-Maidah: 15)

Disini Allah menggunakan gaya bahasa “perumpamaan”. Maksud cahaya disini adalah “Nabi Muhammad”. Dalam ilmu Balaghah ini disebut istiarah tashiriah.

Nabi Muhammad diumpamakan sebagai cahaya, bahkan seakan tidak ada bedanya. Karena pada perumpamaan tsb Allah tidak menggunakan perangkat kata “seperti” dan semisalnya.

Jika dikatakan “fulan seperti rembulan”, maka dengan penggunaan kata “seperti” masih menunjukan adanya perbedaan antara fulan dan rembulan. Beda jika dikatakan “fulan adalah rembulan”, maka seakan tidak ada beda antara fulan dan rembulan.

Pada ayat ini perumpamaan tsb tidak mengunakan “seperti”, tidak difirmankan “telah datang kepada kalian manusia yang bagaikan cahaya dari Allah”, namun difirmankan “telah datang kepada kalian cahaya dari Allah”. Artinya antara Nabi Muhammad dan cahaya tidak ada beda, bahkan Nabi Muhammad cahaya itu sendiri.

Secara tersirat Allah firmankan bahwa Nabi Muhammad tidak ada beda dengan cahaya. Tentu ini merupakan bentuk pujian dan pengagungan terhadap Nabi Muhammad dari Allah.

C. Sebagai Orang Yang Paling Suci & Penyanyang

لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ (التوبة: 128)

Dalam satu qiraat dibaca مِنْ أَنْفَشِكُم, artinya paling suci. Dalam qiraat yang biasa dibaca: من أنفُسِكُم, artinya “dari golongan kalian”. Jika kedua qiraat tsb digabungkan maka ayatnya bermakna:

Telah datang kepadamu seorang Rasul sebagai orang yang paling suci diantara kalian, dari golongan kalian sendiri (manusia).

Allah katakan “dari golongan kalian (manusia)”, karena boleh jadi ada yang menyangka Nabi adalah malaikat, karena manusia ini sangat “suci”.

Allah sanggah lebih dahulu bahwa Nabi Muhammad sekalipun paling suci namun tetap dari golongan manusia yang secara fitrah bukanlah malaikat yang diciptakan untuk taat. Manusia secara fitrah bisa taat, juga bisa membangkang.

Jika manusia mau taat maka dia lebih baik daripada malaikat, karena dia punya potensi untuk membangkang. Ketika Allah mengatakan Nabi Muhammad paling suci karena paling taat dari golongan manusia, maka Nabi Muhammad lebih suci dari golongan malaikat.

Disini Allah ingin mengabarkan secara tersirat bahwa Nabi Muhammad lebih baik dan suci dari golongan malaikat. Manusia tersebut mempunyai hal yang lebih dari manusia yang lainnya, yang membuatnya bukan hanya manusia terbaik dari golongannya, bahkan lebih baik pula dari golongan yang lain, yaitu malaikat.

Jika lebih baik dari seluruh malaikat, maka lebih baik dari seluruh makhluk. Ini merupakan bentuk pengangungan kepada manusia tsb, yaitu Nabi Muhammad. Kemudian Rasulullah digelari sebagai rauuf (santun) & rahim (penyanyang). Tiga poin pada ayat tsb:

Pertama, Rasulullah orang paling suci diantara semua tetapi dari golongan manusia yang berarti lebih baik dari malaikat.

Kedua, mempunyai sifat yang sangat santun. Secara tersirat Allah berfirman: Rasulullah itu sangat santun.

Ketiga, mempunyai sifat sangat penyayang. Secara tersirat Allah berfirman: Rasulullah itu sangat penyanyang.

Ini merupakan pujian yang agung kepada Nabi hanya dalam satu ayat saja. Adakah yang Allah puji dengan langsung seperti ini?!

D. Pelita Yang Menerangi

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ إِنَّآ أَرْسَلْنَٰكَ شَٰهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا *وَدَاعِيًا إِلَى ٱللَّهِ بِإِذْنِهِۦ وَسِرَاجًا مُّنِيرًا (الأحزاب: 45-46)

“Hai Nabi! sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi pelita yang menerangi.” (al-Ahzab: 45-46)

Rasulullah dalam ayat ini tidak hanya disifat sebagai “cahaya (pelita)”, namun juga “menerangi”.

Dalam surat Nuh ayat 16 Allah sifati matahari ☀️ sebagai “pelita” / siraj) saja, dan pada surat al-Furqan 61, Allah sifat rembulan 🌕 sebagai “penerang” / munir saja.

Di ayat ini Allah sifati Nabi Muhammad sebagai “pelita yang menerangi” / sirajan munira. Kalau matahari hanya sebagai “pelita” di siang hari, rembulan hanya sebagai “penerang” di malam hari, Nabi Muhammad “pelita yang menerangi”.

Matahari hanya di siang hari bersinar, rembulan hanya di malam hari bersinar, Nabi Muhammad di siang dan malam. Itu berati bahwa Allah telah memuji Nabi Muhammad dengan suatu sifat yang lebih bagus dari matahari dan rembulan. ☀️🌕

Matahari ☀️ = siraj (pelita) (Nuh 16)
Rembulan 🌕 = munir (penereng) (al-Furqan 61)
Nabi Muhammad 🌟🌟= siraj munir (pelita dan juga penerang) (al-Ahzab 45-46)
_

Nabi Muhammad lebih bagus dari matahari & rembulan. Inilah pujian yang luar biasa dari Allah.

E. Namanya Selalu Disebut-Sebut

Allah berfirman dalam surat al-Insyirah: 4:

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Dan telah kami tinggikan, untukmu, namamu.”

Imam al-Qurthubi & at-Thabari menjelaskan bahwa maksud “meninggikan nama”:

1) Setiap disebut nama Allah pasti disebut nama Nabi Muhammad, seperti contoh di dalam kalimat tauhid/syahadat.

2) Nama Nabi Muhammad selalu disebutkan di dalam shalat, adzan, iqamah, haji dll

Kalau kita renungkan, maka diafahami bahwa tidak ada satu detikpun lewat, tidak ada nafspun yang berhembus di dunia ini, kecuali “Muhammadun Rasulullah” disebutkan.

Adzan di Indonesia selesai, masuk di Malaysia, trs berpindah ke India, Arab Saudi dst. Tidak berhenti bergema Muhammadun Rasulullah di dunia ini.

Ditambah lagi orang yang shalat, dimana setiap detik ada orang yang shalat. Begitupun ketika haji, khutbah jumat, pernikahan dll. Betapa agungnya orang ini ketika Allah menjadikan namanya terus disebutkan tidak pernah berhenti setiap detiknya, pada setiap nafas yang berhembus, yang mana hal ini menandakan begitu Allah mencintai dan memujinya.

Tidak ada pujian yang sehebat pujian dan pengangungan dari Allah ini, tidak ada pujian dan pengagungan yang melebihi pengagungan ini!

F. Tidak Terhitung Yang Bershalawat

Allah berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا (الأحزاب: 56)

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (al-Ahzab: 56)

Bershalawat merupakan kata kerja. Kata kerja di ayat tsb adalah fiil mudhari , yaitu kata kerja yang menunjukan istimrar (continue). Allah dan para malaikatnya continue dalam bershalawat dan tidak berhenti.

Berapakah jumlah malaikat? Di dalam hadis disebutkan:

عن أبي ذر -رضي الله عنه- مرفوعاً: «إني أرى ما لا ترون، أطَّتِ السماء وحُقَّ لها أن تَئِطَ، ما فيها موضع أربع أصابع إلا ومَلَكٌ واضع جبهته ساجدا لله تعالى (رواه الترمذي)

Dari Abu Żar -raḍiyallāhu ‘anhu- secara marfū’, “Aku menyaksikan apa yang tidak kalian saksikan. Langit bergemuruh dan wajar saja ia bergemuruh. (Sebab) tidak ada tempat (seluas) empat jari pun di langit melainkan satu malaikat meletakkan keningnya bersujud kepada Allah -Ta’ālā-. (HR. Tirmidzi)

Langit (luar angkasa) yang begitu luas, para ilmuwan tak sanggup mengukur luasnya, tidak ada sejengkal pun kecuali ada malaikat bersujud.

Tidak bisa dibayangkan banyaknya mailkat di langit sana, tidak terhitung dan semuanya bershalawat kepada Nabi dan tidak berhenti, karena ayat diatas menggunakan fiil mudhari (kata kerja) yang mengandung makna continue. Allah dan Jutaan trilyun malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi dan shalawatnya tidak berhenti (continue).

Siapakah yang mendapatkan kedudukan agung seperti ini?. Ayat ini merupakan puncak penganggungan Allah terhadap Nabi Muhammad.

Penutup

Itulah sebagian tentang keagungan Nabi Muhammad di dalam al-Quran yang itu merupakan pedoman umat Islam.

Pengangungan dari Allah merupakan pujian baginya, dan tidak ada pujian yang lebih tinggi dari pujian Allah. Pujian yang manusia buat untuk baginda Nabi tidak sebanding dengna pujian Allah terhadapnya.

Allah lah yang pertama kali mensyiarkan pujian kepada Nabi Muhammad dengan firman-Nya di dalam al-Quran. Ini syiar Allah dalam al-quran.

Jika Allah saja mengagungkannya dan memujinya maka seharusnya umat Islam juga. Allah berfirman dalam surat al-Hajj 22 :

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَٰٓئِرَ ٱللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى ٱلْقُلُوبِ

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”

Shallu Alan Nabi

Sumber:
Al-Quran
As-Syifa Bi Huquqil Musthafa, al-Qadhi Iyadh
Sunan At-Tirmidzi
Tafsir al-Qurthubi
Tafsir al-Thabari

Oleh: Kemal Adityawarman, Lc.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *