Blog

Begini Sejarah Penanggalan Hijriah: Mengandung Banyak Hikmah!

by in Blog Agustus 9, 2021

“Lahir Nabi Muhammad tanggal 12 . . . Senin Tahun Gajah Rabiul Awali . . . Sama dengan 12 April bulannya . . . 571 Masehi . . .”


Lirik lagu anak islami yang terngiang di telinga penulis. Penggalan itu sesuai dengan fakta sejarah penanggalan Hijriah yaitu:

  1. Penanggalan qamariyah dan nama-nama bulannya sudah digunakan masyarakat Arab jauh sebelum Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam lahir.
  2. Sistem penomoran tahun belum dikenal pada saat itu. Masyarakat menyebut tahun dengan menamainya sesuai peristiwa penting yang terjadi pada tahun tersebut.

Seperti tahun lahirnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Dinamakan tahun gajah karena pada tahun itu terjadi penyerangan Ka’bah pasukan bergajah.

Besok kita akan memasuki 1 Muharram 1443 H. Pertanyaannya kapan tahun pertama Hijriah? Dan mengapa dinamakan Hijriah, kenapa bukan Qamariyah?

kalender qamariyah adalah sistem penanggalan berdasarkan peredaran bulan

Asal mula penanggalan Hijriah adalah munculnya masalah dalam pemberkasan pada masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan bahwa Gubernur Bashrah pada masa itu, Abu Musa al-Asy’ari, melalui sepucuk surat melaporkan,

“Telah sampai kepada kami surat-surat dari Amirul Mukminin, namun kami tidak tau apa yang harus kami perbuat terhadap surat-surat itu. Kami telah membaca salah satu surat yang dikirim di bulan Sya’ban. Kami tidak tahu apakah Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

dilansir dari muslim.or.id

Untuk mencegah terjadinya masalah serupa, Umar bin Khattab berdiskusi dengan para sahabat untuk menentukan acuan penanggalan bagi umat muslim.

Beberapa usulan sahabat di antaranya memulai perhitungan tahun sejak Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam;

  1. lahir;
  2. diutus menjadi Rasul;
  3. wafat;
  4. hijrah ke Madinah (usul Ali bin Abi Thalib).

Usulan pertama dan kedua ditolak karena tahun lahir dan diutusnya Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam belum diketahui secara pasti.

Selain itu usul kedua dan ketiga mengandung unsur tasyabbuh (menyerupai kaum lain). Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Menjadikan tahun lahir sebagai acuan akan menyerupai orang Nasrani yang memulai penanggalan sejak Nabi Isa dilahirkan. Sementara jika menjadikan tahun wafat sebagai acuan, akan menyerupai Orang Majusi yang memulai penanggalan sejak wafatnya raja mereka.

Selain itu, tahun wafat tidak dipilih karena akan menimbulkan kesedihan jika diingat.

Akhirnya Umar bin Khattab, atas hasil musyawarah, menetapkan untuk menjadikan tahun hijrah sebagai acuan.

Itulah mengapa dinamakan kalender Hijriah yang memiliki dasar kata yang sama dengan ‘hijrah’.

Selain mengeliminasi usul yang lainnya, keputusan ini diambil dengan pertimbangan yang sangat matang. Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahillah dalam Fathul Bari menyatakan,

“Dan As-Suhaili memberikan tambahan informasi: para sahabat sepakat menjadikan peristiwa hijrah sebagai patokan penanggalan, karena merujuk kepada firman Allah Ta’ala,

لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيه َ

“Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar takwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya.” (QS. At-Taubah: 108)

Sudah suatu hal yang maklum; maksud hari pertama (dalam ayat ini) bukan berarti tak menunjuk pada hari tertentu. Nampak jelas ia dinisbatkan pada sesuatu yang tidak tersebut dalam ayat. Yaitu hari pertama kemuliaan islam. Hari pertama Nabi shallallahu’alaihiwasallam bisa menyembah Rabbnya dengan rasa aman. Hari pertama dibangunnya masjid. Karena alasan inilah, para sahabat sepakat untuk menjadikan hari tersebut sebagai patokan penanggalan.

Dari keputusan para sahabat tersebut, kita bisa memahami, maksud “sejak hari pertama” (dalam ayat) adalah, hari pertama dimulainya penanggalan umat Islam. Demikian kata beliau. Dan telah diketahui bahwa makna firman Allah ta’ala: min awwali yaumin (sejak hari pertama) adalah, hari pertama masuknya Nabi shallallahu’alaihiwasallam dan para sahabatnya ke kota Madinah. Allahua’lam.” (Fathul Bari, 7/335)

Selain itu, momen hijrah adalah titik bangkitnya peradaban Islam. Dari kesulitan dakwah di Mekkah, menuju dakwah yang lebih luas dan terstruktur di Madinah. Sehingga setiap tahunnya kita terus mengevaluasi diri, mengamalkan hikmah dari peristiwa hijrah ini, agar setiap tahun kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Dari sejarah ini, banyak yang dapat kita petik. Bermusyawarah dalam memutuskan suatu perkara, mempertimbangkan berdasarkan Al-Qur’an dan hadits untuk mencapai ijtihad, dan membangun kerja sama yang komunikatif dalam memecahkan suatu masalah.

Semoga tahun 1443 H, ketakwaan kita kepada Allah semakin meningkat dan kepada sesama makhluk-Nya, kita semakin bermanfaat.

Aminkan jika sahabat sepakat☺️

Rujukan:

One Comment
  1. Faatih Rizkiyah Assyukru Agustus 9, 2021 at 11:20 pm Balas

    Aamiin😊

Leave a Reply to Faatih Rizkiyah Assyukru Cancel reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *