Blog

Takdir Bukanlah Dalih untuk Bermaksiat

by in Blog Juli 23, 2021

Sebelumnya apakah kamu sudah mengetahui apa makna takdir?

Takdir itu bukan sekedar suatu kejadian yang sudah Allah Ta’ala tetapkan atau tuliskan di lauhul mahfudz. Takdir itu pilihan hidup! Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Sifat baik dan sifat buruk, perempuan dan laki-laki, siang dan malam, serta masih banyak lagi contoh lainnya.

Ada seseorang bertanya kepada As-syaikh Muhammad Bin Sholih Alutsaimin, “Apakah manusia akan dihukum karena kesalahannya dan kemaksiatannya, padahal Allahlah yang telah menakdirkan perbuatan tersebut di lauhul mahfudz?”

Beliau menjawab, “Ya, manusia akan dihukum karena kemaksiatan yang ia lakukan. Apabila kemaksiatan tersebut bukan kesyirikan. Maka dihukum atau tidaknya tergantung kehendak Allah Ta’ala.”

Tidak diragukan lagi, bahwa sebuah kemaksiatan terjadi karena ilmu Allah dan kehendak-Nya. Hal tersebut telah dituliskan atas seorang hamba di lauhul mahfudz, bahkan ketika ia masih berada dalam perut ibunya. Akan tetapi, sebelum kemaksiatan itu terjadi, seorang hamba tidak mengetahui apa yang akan terjadi padanya.

Jadi, ia tidak bisa beralasan kemaksiatan yang ia lakukan adalah takdir yang sudah tertulis di lauhul mahfudz. Karena ia tidak pernah tahu takdir apa yang telah tertulis untuknya. Kecuali, apabila ia tahu apa yang akan terjadi padanya sebelum kejadian tersebut.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dan tidak ada seorangpun yang mengetahui (dengan pasti) apa yang akan ia kerjakan esok hari.” (QS. Lukman: 34)

Oleh karena itu, sebagian ulama berkata, “Takdir itu bersifat rahasia dan tertutup. Tidak diketahui sampai waktunya terjadi.”

Sebagai contoh, siapakah yang tahu bahwa esok hari akan terjadi hujan? Kita tidak akan tahu sampai esok hari benar-benar terjadi hujan tersebut bukan?

Selama –lamanya syariat tidak bisa dilanggar dengan alasan takdir. Atas dasar inilah Allah Ta’ala runtuhkan orang-orang yang berdalih dengan takdir atas perbuatannya.

Orang –orang musyrik berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apapun.” Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab kami. Katakanlah (Muhammad), “ Apakah kamu mempunyai pengetahuan yang dapat kamu kemukakan kepada kami? Yang kamu ikuti hanya perasangka belaka, dan kamu hanya mengira.” (QS. Al An’am : 148)

Apabila alasan mereka dibenarkan,tentu mereka tidak akan merasakan azab dari Allah Ta’ala! Seandainya takdir bisa digunakan untuk berdalih, tentu tidak ada gunanya diutus para rasul.

Allah Ta’ala berfirman, “Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan peringatan, agar tidak ada alas an bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus.” (QS. Annisa : 165)

Sebagai manusia tugas kita adalah tetap berusaha dan beramal shalih. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tak diridhai Allah. Karena Allah telah mengaruniakan akal kepada kita, sehingga kita bisa membedakan mana yang hak dan yang batil.

Maha luas rahmat dan ampunan Allah kepada setiap hamba-Nya. Wallahu a’lam.

Jika kamu mendapatkan manfaat dari artikel ini, jangan lupa dishare ya 😉

Penulis: Tuti Sapariah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *