Blog

3 Ayat Tentang Hawa Nafsu: Kenali agar Terkendali

by in Blog Agustus 14, 2021

Orang pendosa tidak peduli apakah dia membuat murka Tuhannya ataukah tidak, yang dia pedulikan hanyalah memuaskan nafsu dan keinginannya. – Ibnu Qayyim

Kutipan Ibnu Qoyyim rahimahullah di atas menyinggung nafsu yang mendorong manusia berbuat kemaksiatan. Pertanyaannya, apakah hawa nafsu selalu seperti itu? Apakah ada hawa nafsu yang bekerja sebaliknya?

Secara bahasa, hawa nafsu terdiri dari 2 kata yang sama-sama berasal dari bahasa arab. Hawa yang berarti kehendak, sedangkan nafsu yang berarti jiwa. Meskipun lumrah didefinisikan sebagai dorongan untuk bermaksiat, merujuk pada definisi secara bahasa, maka hawa nafsu sebenarnya bisa bekerja sebaliknya; sesuai kehendak jiwa.

Untuk menjawab lebih rinci mengenai hawa nafsu dan sifat sesungguhnya, maka Al-Quran adalah rujukan yang tidak diragukan. Berikut 3 sifat hawa nafsu menurut perspektif Al-Quran.

1. Mengajak pada keburukan

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS Yusuf : 53)

Melansir dari ibnukatsironline.com , terdapat perdedaan pendapat mengenai tafsir ayat ini. Salah satunya, menurut al-Mawardi dan disetujui oleh Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa ayat ini adalah perkataan istri Al-Aziz dalam kisah Nabi Yusuf. Pendapat ini lebih dikenal karena sesuai dengan konteks kisah tersebut.

2. Menyesali diri

وَلَاۤ اُقۡسِمُ بِالنَّفۡسِ اللَّوَّامَةِؕ

” . . . dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).” (Al-Qiyamah/75:2)

An-Nafs al-lawwamah sebenarnya adalah jiwa seorang mukmin yang belum mencapai tingkat yang lebih sempurna. Penyesalan adalah benteng utama dari jiwa seperti ini karena telah melewati hidup di atas dunia dengan kebaikan yang tidak sempurna.

Dilansir dari Kalam Sindo

Nafsu yang satu ini memiliki dua pilihan; apakah larut dalam penyesalan atau segera mengarahkan nafsunya menuju ketaatan, mengingat semuanya akan dipertanggungjawabkan di hari kemudian yang tidak lama lagi akan datang.

3. Tenang

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Q.S. Al-Fajr [89]: 27-30)

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang memilih satu dari dua jalan yang Allah ilhamkan kepeada manusia. Sebagaimana firman-Nya yang berbunyi:


وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَاۖ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَاۖ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ

“… ‎dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah ‎mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. ‎Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan ‎sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S. Al-Syams [91]: 7-10)

Itulah 3 sifat jiwa/nafsu yang disebutkan di dalam Al-Quran. Semoga kita termasuk orang-orang yang menyucikan diri.

Aamiin

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *