Blog

2 Nikmat Sehari-hari yang Lalai Disyukuri

by in Blog Agustus 28, 2021

Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (Ibrahim/14: 34)

Penggunaan kata menghitung untuk menyatakan betapa banyak nikmat Allah dalam ayat tersebut, sejalan dengan pernyataan bahwa manusia itu kebanyakan dzalim dan ingkar. Manusia selalu merasa kurang dan menghitung apa-apa yang belum ia miliki. Padahal ada banyak hal yang ia butuhkan diberikan oleh Allah tanpa pernah ia minta.

Dari banyaknya nikmat Allah, ada sepasang nikmat yang disebutkan dalam hadits sebagai 2 yang paling lalai disyukuri.

Kesehatan dan waktu luang

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa terkadang seseorang memiliki badan yang sehat, akan tetapi ia tidak memiliki waktu luang karena sibuk dengan mata pencahariannya. Terkadang seseorang memiliki waktu luang namun badannya tidak sehat. Apabila kedua nikmat ini (waktu luang dan badan yang sehat) dimiliki oleh seseorang, lalu rasa malas lebih mendominasi dirinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah; maka dialah orang yang tertipu. (Fathul Bari bi Syarhi Shahihil Bukhari: 14/184)

Mengenai nikmat waktu, Allah SWT sudah mengetahui bahwa kebanyakan manusia akan merugi. Dalam QS. al-Asr, Allah menerangkan sifat-sifat orang yang tidak merugi yaitu yang beriman, beramal shaleh saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran.

Bahkan dalam QS. Al-Insyirah ayat 7, Allah berfirman, “Dan apabila kamu selesai dalam suatu urusan, segera lakukan urusan yang lain.” Bahkan Rasulullah bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتِكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Jagalah lima perkara sebelum (datang) lima perkara (lainnya). Mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu dan hidupmu sebelum matimu.” (HR Nasai dan Baihaqi)

Ini menunjukkan bahwa muslim haruslah produktif dengan cara cerdas dalam memanajemen waktu.

Begitu juga dengan nikmat kesehatan. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyinggung perihal makanan. Allah memerintahkan kita untuk memerhatikan apa yang kita makan.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh. . . (HR. Muslim)

Muslim yang kuat (dalam hal ini: fisik) akan terjaga semangatnya dalam beribadah dan melakukan kebaikan.

Untuk itu, ketika kedua nikmat ini Allah berikan kepada kita, manfaatkan sebaik-baiknya. Karena kita tidak tahu kapan Allah mengambil salah satu atau keduanya.

Selagi sehat dan memiliki waktu luang artinya kita punya kesempatan untuk memperbanyak kebaikan baik dalam beribadah maupun bekerja. Menjadi produktif adalah cara untuk mensyukuri kedua nikmat ini.

Semoga bermanfaat. Selamat mensyukuri nikmat! 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *